PERKAWINAN

BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

SYARAT-SYARAT PERKAWINAN

  1. Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai;
  2. Untuk dibawah umur 21 tahun harus izin kedua orang tua;
  3. Apabila kedua orang tua meninggal, maka izin cukup diperoleh dari orangtua yang masih hidup, antara lain saudara dari orang tua;
  4. Apabila orang tua meninggal, maka izin cukup diperoleh dari wali orang yang memeliharanya atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup;
  5. Apabila ada perbedaan antara orang-orang yang dimaksud diatas, maka pengadilan daerah tempat tinggal itu akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut setelah mendengar dari yang dimaksud diatas;
  6. Ketentuan ini berlaku ayat 1-5 pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.

PERKAWINAN YANG DILARANG

  1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah atau ke atas;
  2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, seorang saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;
  3. Berhubungan semenda yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri;
  4. Berhubungan susuan yaitu anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan;
  5. Berhubungan dengan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri dalam hal suami beristri lebih dari seorang;
  6. Yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.

ALASAN PERCERAIAN

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang membahayakan pihak yang lain;
  4. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
  5. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

HARTA BENDA DALAM PERKAWINAN

  1. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
  2. Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

PUTUSNYA PERKAWINAN

  1. Kematian;
  2. Perceraian ; dan

Atas keputusan pengadilan.