PERIKATAN ATAU PERJANJIAN

Perjanjian berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Pasal 1320, supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat, yaitu :

  1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; (formal atau resmi)
  2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; (formal atau resmi)
  3. Suatu pokok persoalan tertentu; (Materiil atau Suatu bentuk yang nyata)
  4. Suatu sebab yang tidak terlarang.(materiil )

Berdasarkan Pasal 1233 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Yaitu :

  1. Perikatan, Lahir Karena Suatu Persetujuan (Perjanjian)

Berarti suatu perbuatan antara dua orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lainnya atau lebih.

Pada dasarnya perikatan ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu secara lisan (berkata) atau Tulisan (ditulis ataupun di ketik)

Contoh :

  • lisan seperti beli bahan-bahan pokok di Pasar atau jual beli makanan/minuman, hal ini sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak kita sadari bahwa kita sudah melakukan Perikatan atau Perjanjian secara lisan.
  • Tulisan seperti Kontrak kerja SPG, Pegawai Kantor, Marketing dan lain-lain pasti membutuhkan sebuah Perikatan atau Perjanjian secara tertulis untuk menuangkan hak dan kewajiban masing-masing pihak baik dari perusahaan maupun pekerja/karyawan.
  • Perikatan lahir karena Karena Undang-Undang

Berarti perikatan ini dikaitkan dengan suatu peristiwa-peristiwa hukum tertentu, yang mengharuskan atau mewajibkan melahirkan suatu hubungan hukum diantara pihak-pihak yang bersangkutan.

Contoh :

  • Perkawinan atau Pernikahan menimbulkan hak dan kewajiban suami dan istri;
  • Kelahiran anak menimbulkan kewajiban bagi bapak/suami untuk memberikan semua kebutuhan bagi sang anak dan sang ibu, dan untuk ibu menimbulkan kewajiban memberikan kesehatan dan gizi bagi sang bayi.

ISI PERIKATAN DIBEDAKAN MENJADI 3 (tiga) MACAM YAITU :

  1. Memberikan sesuatu;

Dapat diartikan sebagai menyerahkan hak milik atau memberi kenikmatan atas sesuatu benda bergerak maupun benda tidak bergerak.

Contoh:

  • benda bergerak : sewa mobil, jual beli mobil, dll.
  • Benda tidak bergerak : sewa rumah, sewa gedung, jual beli rumah dll.
  1. Untuk berbuat sesuatu, atau;

Dapat diartikan sebagai melakukan perbuatan yang sesuai dengan yang dituangkan dalam perikatan atau perjanjian, contoh : membangun rumah, membuat mobil, dll.

  1. Tidak berbuat sesuatu.

Dapat diartikan sebagai tidak berbuat sesuatu yang berarti jangan melakukan sesuatu hal diluar apa yang telah diperjanjian (sama dengan nomor 2) tetapi untuk hal ini tidak dapat dituntut ketika terjadi pada contoh : tidak menuntut dealer mobil untuk pengiriman terlambat dikarenakan terjadi diluar kuasa mereka yaitu Banjir.