Upaya Kreditor Atas Wanprestasi

Prestasi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi atau dilakukan oleh debitor dalam setiap perikatan, baik perikatan yang bersumber pada perjanjian maupun Undang-Undang.

Menurut Subekti (Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa, 1995), wanprestasi yang dilakukan debitor dapat berupa empat hal yaitu:

  1. Tidak melakukan apa yang disanggupi sebagaimana dalam perjanjian.
  2. Melaksanakan apa yang diperjanjikan tetapi tidak sesuai sebagaimana diperjanjikan.
  3. Melakukan yang diperjanjikan tetapi terlambat.
  4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.                          

Upaya yang dapat dipilih oleh kreditor kepada seorang debitor yang melakukan wanprestasi, menurut 1239, 1243 dan 1276  Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia (BW) :

  • Kreditor dapat meminta pelaksanaan perjanjian, meskipun perjanjian pelaksanaan ini sudah terlambat;
  • Kreditor dapat meminta penggantian kerugian saja, yaitu kerugian yang dideritanya. karena perjanjian tidak atau terlambat dilaksanakan, atau dilaksanakan tetapi tidak sebagaimana mestinya;
  • Kreditor dapat menuntut pelaksanaan perjanjian disertai dengan penggantian kerugian yang disertai olehnya sebagai akibat terlambatnya pelaksanaan perjanjian;
  • Dalam hal suatu perjanjian yang meletakkan kewajiban timbal-balik, kelalaian satu pihak memberikan hak kepada pihak yang lain untuk meminta pada hakim supaya perjanjian dibatalkan, disertai dengan permintaan pengganti kerugian.